Awal Bertemu
Awalnya, kami hanya teman sekelas di kelas 8 SMP.
Aku masih ingat jelas, kamu duduk di baris tengah. Berisik, usil, tetapi pintar. Aku yang pendiam akhirnya ikut terseret menjadi temanmu karena satu kelompok tugas IPS. Dari sana, kami mulai sering mengobrol, bertukar bekal, hingga saling berebut pulpen. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Namanya juga anak SMP, pacarannya masih begitu polos.
Tiga tahun kami lewati bersama.
Dari SMP kelas 8 hingga SMA kelas 11. Kami melewati masa-masa alay, bertengkar karena cemburu yang tidak jelas, hingga pernah dimarahi guru karena ketahuan surat-suratan di kelas. Saat itu, kupikir semuanya akan terus berjalan seperti itu.
Namun, ternyata tidak.
Kami berpisah di tahun ketiga. Tidak ada drama besar, hanya sama-sama merasa lelah dan terlalu keras kepala. Setelah itu, kami benar-benar menjadi asing selama empat tahun.
Empat tahun yang terasa seperti tidak pernah saling mengenal. Tidak ada chat, tidak ada like, tidak ada komentar. Bahkan ketika berpapasan di jalan, kami hanya saling membuang muka. Padahal dulu, hampir setiap hari kami selalu bersama. Aku sempat berpikir, mungkin memang cerita kami sudah selesai sampai di sana.
Sampai suatu hari, entah karena iseng atau karena rindu, kamu membalas story-ku.
Hanya dengan sebuah kalimat sederhana, “Eh, masih di sini?”
Dari sana, kami mulai kembali mengobrol. Awalnya terasa canggung, seperti berbicara dengan orang baru, tetapi dengan hati yang ternyata masih sama. Setelah empat tahun menjadi asing, kami menyadari bahwa kami telah tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa. Lebih sabar, lebih memahami, dan lebih mengerti bagaimana cara menjaga perasaan satu sama lain.
Dan lucunya, rasanya tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali menemukan kenyamanan. Seperti pulang ke rumah setelah berjalan begitu jauh.
Kini, kami kembali berada di sini. Bukan lagi dua anak SMP kelas 8 yang jatuh cinta karena satu kelompok tugas, tetapi dua orang yang pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi asing, dan tidak ingin lagi mengulanginya.
Jika dulu kami dipertemukan karena kebetulan berada di kelas yang sama, kali ini kami bersama karena kami memang memilih untuk berjalan bersama.